Tampilkan postingan dengan label kisah perjuangan kader dan simpatisan PKS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah perjuangan kader dan simpatisan PKS. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Oktober 2009

Kisah Barzanji Sang Gubernur

Malam itu semua mata menyaksikan seorang Calon Gubernur dari Partai yang di cap anti muludan justeru dengan lancar dan fasih membaca kitab Barzanji, kita yang begitu keramat di kalangan Nahdhiyin.


PK-Sejahtera Online: Kisah ini dituturkan sendiri oleh Ustadz Ahmad Heryawan saat bersilaturahim ke kediaman Ketua MUI Kabupaten Sukabumi, KH Jejen ZA, 27 September lalu. Sebelum ke Pesantren KH Jejen, Gubernur terlebih dahulu bertemu kader PKS Kota dan Kabupaten Sukabumi di Rambay, Cisaat dan dilanjutkan dengan Buka Puasa Bersama di Bank Jabar Sukabumi dan Taraweh berjamaah di Mesjid Agung Cirebon.


Alkisah saat masa-masa kampanye Pilgub Jabar, April 2008 lalu. Sebuah Pesantren besar di Cirebon, yakni Pesantren Nurusshidiq pimpinan KH Ade Gumelar mengundang seluruh kandidat gubernur untuk menghadiri kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Guna memenuhi undangan Sang Kyai, saat itu hanya Pasanga Hade yang datang berdua. Sementara dua pasang lainnya hanya diwakili Calon Wakil Gubernur.


Ketika masing-masing kandidat memperkenalkan diri dihadapan para Kyai dari berbagai pesantren di Cirebon, dan giliran Ustadz Ahmad Heryawan, semua mata memandang penuh tanya. Bagaimana mungkin seorang kader PKS yang menjadi Calon Gubernur, mau menghadiri acara muludan, begitu pikir mereka saat itu. Dan saat itu memang sedang merebak luas di seluruh Jawa Barat isu PKS anti maulid, anti tahlil dan sebagainya sehingga jangan pilih kader PKS.


Bagi Ahmad Heryawan, situasi ini justeru sangat strategis untuk mementahkan isu murahan lawan politik PKS. "Terimakasih atas undangan yang diberikan kepada kami untuk bersilaturahim di sini. Bagi saya muludan adalah sebuah kegiatan yang tidak asing, karena sejak muda biasa mengadakan muludan bahkan menjadi penceramah muludan. Kader-kader PKS umumnya terbiasa mengisi ceramah tentang muludan ataupun Isra Mikraj," begitu Ahmad Heryawan memulai penuturannya.
Saat itu para Kyai dan Habaib yang hadir tampak kaget dan seakan masih belum percaya dengan pengakuan tersebut. "Dan Pak Kyai, saya yakin, dari semua calon Gubernur yang ada, Insya Allah sayalah satu-satunya yang bisa membaca kitab Barzanji," lanjut Heryawan.


Para Nahdhiyin dan Habaib semakin penasaran. Dan secara demostratif, Heryawan pun menunjukkan kepiawaiannya membaca kitab Barzanji di depan para Kyai. Dan malam itu, seakan menjadi panggung tersendiri bagi Heryawan, seorang kader PKS, untuk mementahkan tuduhan picik lawan politik bahwa PKS anti maulid dan anti Tahlil. Malam itu semua mata menyaksikan seorang Calon Gubernur dari Partai yang di cap anti muludan justeru dengan lancar dan fasih membaca kitab Barzanji, kita yang begitu keramat di kalangan Nahdhiyin.


Secara cerdik, wartawan Radar Cirebon pun mengabadikan momen Hade membaca kitab barzanji bersama para Kyia Cirebon. Esoknya, foto yang memuat moment itu pun dikliping dan diperbanyak. Tim Hade pun menyebarluaskan kliping foto dan berita tersebut ke seluruh kantong-kantong NU di Jawa Barat. Al hasil, Heryawan pun dinobatkan sebagai Gubernur yang pandai membaca kitab Barzanji. [Setia Lesmana]

Sumber : http://www.pk-sejahtera.org/v2/main.php?op=isi&id=6006

Senin, 05 Oktober 2009

Mengais Rizki Ditengah Aksi

PKS Jaksel : Marni berjalan gontai, wajahnya tampak pucat setelah hampir setengah hari berjalan dari Monas ke HI, mengikuti massa PKS yang sedang menggelar aksi. Peluh mengecur deras dari wajahnya, membasahi pipinya yang tampak lusuh.

Dipundaknya bergelantung bayi mungil berusia dua bulan. Sekali-kali ditepuk-tepuknya bokong anak kesayangannya itu agar tak terbangun. Hatinya terenyuh melihat buah hatinya yang masih kecil, harus ia bawa-bawa mengikuti kemana saja kakinya melangkah, tak terkecuali saat harus memunguti satu demi satu sampah gelas dan botol air mineral bekas minum para demonstran yang tampak kekelahan.

Marni segera bergeser ke arah halte tepat di depan hotel Grand Hyatt, untuk menghindari arus massa PKS yang semakin menyesaki bundaran HI. Tangan kanannya menggenggam sekarung barang-barang bekas.

Direbahkan badannya di atas trotoar jalan, meski ribuan kader dan simpatisan PKS lalu lalang di hadapannya ia merasa bukanlah halangan. Jalanan sudah begitu akrab dengan kesehariannnya, duduk atau tiduran saat kelelahan di jalan sudah menjadi santapannya sehari-hari.

Meski tubuhnya teramat letih, namun hati marni tersenyum. Sekarung barang bekas berarti duapuluh ribu rupiah uang yang bisa ia peroleh dari hasil penjualan barang-barang tersebut. Hal ini sangat sulit ia peroleh setiap hari. Meski tidak berharap akan sering digelar aksi, keberadaan demontrasi PKS untuk rakyat Palestina, membuat dadanya dapat berbafas lega, karena akan ada makanan yang dapat ia bawa.

Suparman juga merasakan hal yang sama. Aksi-aksi yang digelar oleh PKS ia rasakan mendatangkan lebih banyak rizki. Buah-buah potong yang ia jual kerapkali habis di beli oleh para keder dan simpatisan PKS. Berbeda dengan hari-hari biasa, dagangannya masih tersisa meski gelap malam telah tiba. Pria yang ringgal di Tanah Abang ini pun bersyukur atas rupiah demi rupiah yang bisa ia kais saat aksi. .”Alhamdulillah habis, biasanya sampai malam juga masih ada,” tuturnya bahagia.

Tak hanya Marni dan Suparman, puluhan pedagang yang biasanya mangkal di Monas mungkin saja mengalami hal yang sama, Tukang baso, soto, gado-gado, lontong sayur sate pandang, siomai, minuman dan pedagang lainnya tumpah ruah di jalan bersamaan dengan para demonstran. Dagangan mereka pun tak tersisa diborong oleh massa.

***

Demontrsi bagi sebagian orang memang menghawatirkan. Batu, kayu dan benda-benda lainnya beterbangan ke udara oleh ulah para pengungjuk rasa. Tragedi berdarah pun kerap kali tak bisa dihindari, Namun bagi sebagian orang lainnya demontrasi adalah ladang untuk dapat memperoleh sesuap nasi. (adine)

Sumber : http://www.pks-jaksel.or.id/Article1859.html

Minggu, 04 Oktober 2009

Dayat: Berubah Sejak Kenal PKS

Setiap orang pasti punya ‘mimpi’ dalam hidupnya. Mimpi mempunyai kekuatan inspiratif yang mampu menghantarkan seseorang pada kesejatian hidupnya. Mimpi acap kali memberikan aura positif guna melakukan inprovisasi hidup. Karena dengan mimpi seseorang mampu melabuhkan harapan menjadi kenyataan.

Berawal dari sebuah mimpi untuk merubah nasib hidup, seorang pemuda desa berani melangkahkan kakinya di ranah rantau. Sejak lulus dari sekolah menengah pertama, pemuda itu ‘nekat’ mencari nafkah meninggalkan keluarganya yang hidup dalam kesederhanaan. Ialah Rahmat Hidayat yang akrab dipanggil Dayat.

Sejak 1989, pemuda kelahiran Cianjur ini mulai menapakkan kakinya di Cilegon, salah satu kota kecil di Provinsi Banten. Di Cilegon ia berharap ada secercah harapan yang bisa mengubah jalan hidupnya menjadi lebih baik. Sejak pertama kali menginjakkan kakinya di tanah jawara itu, Dayat tak tau entah apa yang harus diperbuat. Ia datang tanpa tujuan, berjalan tanpa arah, hanya semangat yang tersisa dalam jiwanya.

Kurang lebih satu minggu hilir mudik tanpa tujuan pasti, tidur berpindah-pindah dari satu trotoar ke trotoar lain, akhirnya ia bertemu dengan seorang Madura baik hati yang mengajaknya bekerja sebagai pengrajin kayu. Dari pekerjaan itulah, setapak demi setapak, Dayat mulai menata kisah hidupnya.

Profesi sebagai tukang kayu dilakoninya dengan tekun. Namun, kebiasaan buruknya sebagai pemuda kampung berandalan belum-lah berubah. Penghasilannya yang pas-pasan hanya dijajakan demi seonggok botol minuman keras dan dihamburkan di atas meja judi. Bahkan sesekali ia pernah kecanduan obat terlarang.

Pekerjaan sebagai tukang kayu ia lakoni selama enam tahun. Setelah itu, ia pindah ke Serang bekerja secara serabutan, apa saja ia kerjakan - mulai dari sopir angkot hingga jualan tas - demi sesuap nasi dan memenuhi kebutuhan liarnya. Di serang, Dayat juga tak kunjung mampu merubah kebiasaan buruknya menenggak minuman haram dan menggilai obat terlarang.

“Kebiasaan buruk itu terus menerus saya lakukan tanpa kontrol dari siapapun. Saat itu saya jauh dari agama, jiwa saya kosong. Saya pasrah saja dengan irama hidup yang saya jalani,” katanya seraya mengenang perilaku buruknya itu.

Meski bekerja serabutan, pundi-pundi keuangannya mulai bertambah. Perilakunya yang berandalan, tak mampu menyurutkan niatnya untuk melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Tahun 1995 ia masuk Madrasah Aliyah (MA), sekolah menengah atas sederajat SMU. Meski dengan nilai empot-empotan, akhirnya ia lulus juga.

Ternyata tingkat pendidikan tidak membuat perilaku dan kedewasaannya berubah. Bahkan setelah lulus MA, kebiasaan buruknya makin menggila. Dari segi penampilan ia layaknya anak Punk dengan gaya rambut jabrik, bibir dan hidung ditindik anting, dan segala assesoris lengket di sekujur tubuhnya. Tak hanya itu, kebiasaan minum alkohol pun kian menjadi.

Di penghujung tahung 2000, ia berkenalan dengan seorang primadona kampung Suka Menah kecamatan Baros, Dede Winingsih. Lewat perkenalan singkatnya, dengan modal uang 150 ribu Dayat memberanikan diri melamar kembang desa idaman hatinya itu. Dari perkawinan itu dia dianugerahi dua anak; Inayah dan Sandi.

Setelah menikah Dayat tak kunjung menemukan hidayah, hidupnya kian luntang lantung, pekerjaannya semakin tidak jelas. Sampai suatu ketika, ia bertemu dengan seorang tokoh kharismatik Mustofa Idris, aktivis partai dakwah, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang rela membimbingnya untuk kembali ke jalan yang benar.

Pak Mus, demikian sapaan akrabnya, dengan sabar membimbing Dayat untuk terus kembali ke jalan Allah. Tiada kenal lelah, ketua Cabang Dakwah (KCD) dapil 3 Kabupaten Serang itu terus membimbingnya untuk kembali menjalankan ajaran agama.

“Sejak saat itulah, saya mulai shalat, ngaji, puasa dan meninggalkan kebiasaan buruk lainnya. Saya banyak berhutang kepada Pak Mustofa, ia begitu sabar membimbing saya,” tuturnya haru.

Sejak perkenalannya dengan Pak Mus, Dayat mulai rajin datang ke Masjid, rutin mengikuti pengajian di PKS (liqa’). Perjumpaannya dengan Pak Mus serta sejumlah aktifitasnya di PKS kian merubah jalan hidupnya. Seolah Allah sudah memberikan keajaiban pada bapak dua anak ini.

Dayat mengaku, sejak sering ikut pengajian hidupnya mulai terarah dan Allah selalu memudahkan segala urusannya. Sejak saat itulah, dengan biaya pas-pasan Dayat membuka usaha sablon kecil-kecilan dengan merekrut 6 anak yatim sebagai partner kerjanya. Baginya, keterbatasan ekonomi tak menyusutkan niatnya untuk berbuat maslahat kepada orang lain.

“Di lingkungan saya tinggal, banyak anak yatim dan fakir miskin yang terlantar. Saya terenyuh melihat mereka. Dengan segala keterbatasan yang ada, saya ajak mereka untuk usaha kecil-kecilan, meski terkadang dalam sehari kita hanya dapat uang 40 ribu dibagi enam,” terang pria berkulit putih ini.

Meski hidup dalam kondisi sederhana, Dayat masih mempu menafkahi semua kebutuhan keluarganya. Ia tak pernah mengeluh dengan kondisinya itu. “Saya bersyukur karena Allah telah memberikan nikmat iman kepada saya. Ini lebih dari segalanya,” tegasnya.

Ternyata nilai agama sudah menancap dalam kalbu pria berumur 34 tahun itu. Dia sudah mantap dengan keimanannya. Lewat perkenalannya dengan Bang Zul dalam pemilu legislatif lalu, ia diamanahi satu angkot sebagai modal untuk mencari nafkah. Saat ini, angkot menjadi amunisi utama Dayat dan keluarganya dalam menghasilkan nafkah.

Empat bulan keseharian Dayat dilalui bersama angkot. Dari pekerjaan ini ia bisa menata ekonomi keluarganya lebih baik, mengembangkan sablon bahkan menyisihkan sebagian penghasilannya ke Partai PKS di kecamatan Baros untuk kepentingan dakwah. Begitulah kisah singkat kehidupan Dayat. Dari pengangguran berandal, tukang kayu hingga ke sopir angkot. Terakhir ia berkeinginan menjadi juragan angkot di daerah Serang seraya terus mengumandangkan semangat dakwah. (adi)

Sumber : http://www.zulkieflimansyah.com/in/dayat-berubah-sejak-kenal-pks.html

Berdakwah dengan Cabe

Kisah sukses seseorang tak melulu terlecut dari orang-orang beken dan terkenal. Saiful merupakan contoh kongkritnya. Saiful yag dikenal sebagai aktivis PKS, justeru terlecut oleh gigihnya perjuangan petani cabe di kampung halamannya, Mancak Kabupaten Serang. Kisah dia yang melanglang buana ke banyak tempat, kemudian banting setir menjadi petani cabe sukses, merupakan kisah nyata bahwa ia terinspirasi dari kalangan biasa.

Seperti kebanyakan pemuda di kampungnya, ia mempunyai mimpi untuk menjadi orang sukses. Baginya, kesuksesan merupakan harga mati yang bisa mengangkat derajat hidup diri serta keluarganya. Saiful ‘muda’ sangat senang mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Ia percaya, hanya dengan mengembara cita-citanya menjadi orang sukses bakal terwujud.

Sejak lulus SMA, Saiful muda sudah melangkahkan kaki perjuangannya ke sebuah kota pelajar di Bandung. Di sana ia mencari pengalaman kerja sembari menafkahi hidupnya. Di kota kembang ini pula, dengan bekal seadanya ia sempat kuliah di salah satu kampus swasta, Universitas Bandung. Akan tetapi, sifatnya yang ugal-ugalan membuat dirinya di drop out pihak kampus.

“Saya 3 tahun merantau ke Bandung, mencari kerja hingga kuliah. Tapi karena banyakan nongkrongnya ketimbang kuliah, pihak rektorat kampus mengeluarkan saya. Ini adalah pengalaman tak terlupakan,” kenangnya. Meski begitu, Saiful tak pernah menyesal karena dikeluarkan dari kampus. Ia terus bangkit menjadikan pengalaman ‘pahit’ itu sebagai guru paling berharga dalam hidupnya.

Tak cukup hanya ke Bandung, awal tahun 1997 ia melanjutkan pengembarannya ke Tangerang sebagai buruh pabrik. Pekerjaan sebagai buruh ia tekuni hingga akhir 2000. Persis apa yang terjadi di Bandung, di Tangerang ia tak kunjung berjumpa dengan mimpinya yang indah, menjadi orang sukses. Kemapaman ekonomi tak kunjung datang. Yang ada hanyalah eliminasi hidup dari kehidupan sosial yang kian mengganas.

Sampai akhirnya, di penghujung tahun 2001, ia memutuskan untuk pulang kampung dan bertekad mengembangkan pertanian cabe. Terngiang lekat dalam memorinya sewaktu muda ketika ia melihat petani cabe yang gigih, bekerja di bawah terik matahari, namun hasil yang melimpah tak kunjung menghampiri mereka. Padahal kalau dikelola secara profesional, pertanian cabe bisa mendatangkan banyak keuntungan.

Dari titik simpul itulah, sekembalinya dari pengembaraan selama beberapa tahun, pria berkumis tipis ini bertekad memgembangkan industri pertanian cabe menjadi pertanian yang lebih menguntungkan, berguna bagi masyarakat, dan menghasilkan banyak keuntungan. Dari satu penyuluhan ke penyuluhan lain ia ikuti guna menambah wawasan tentang cara mengembangkan pertanian cabe.

Dengan pengetahuan dan modal seadanya, Saiful ‘tua’ mulai coba-coba bertanam cabe. Areal pertaniannya masih terbatas, bibit yang digunakan juga terbatas. Hasil pertaniannya pun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya. Saat itu, pertanian cabe yang ia jalani sangatlah tradisional, belum ada sentuhan teknologi canggih.

Seiring perkembangan zaman, pengetahuan Saiful tentang pertanian cabe mulai bertambah. Pengalaman menjadi petani cabe juga telah membuat dirinya menjadi sosok yang ulet dan pantang menyerah. Sampai akhirnya, sejak tahun 2005 ia memberanikan diri bertanam cabe dalam skala yang lebih besar. Dan keberanian itu, bergayung sambut dengan perkenalannya dengan Bang Zul yang mensupportnya dari segi modal.

Pengalaman, modal, serta ketersediaan lahan semakin menancapkan semangat Saiful untuk terus mengembangkan industri pertanian cabe di tanah kelahirannya, desa Angsanah kecamatan Mancak. Tahun ini, ia menanam 17.000 bibit pohon cabe di areal tanah seluas 1,5 hektar. Dari prediksi keuntungan, 17.000 pohon cabe itu akan menghasilkan 7 ton dalam setiap panennya.

“Alhamdulilah dengan modal dari Kang Zul pertanian cabe yang saya kelola mulai berkembang. Insya Allah dalam satu tahun ini kita akan panen cabe dua kali. Setiap panen minimal 7 ton akan kita hasilkan dan jika diuangkan bisa mencapai 70 juta,” tuturnya penuh semangat.

Pertanian cabe tidak saja menguntungkan dirinya secara financial, lebih dari itu industri cabe yang dikelola bapak dua anak ini juga justeru mampu menyerap sejumlah tenaga kerja guna dipekerjakan di kebun. Saiful mengatakan, untuk menggarap 1,5 hektar sawah, ia membutuhkan sedikitnya 15 orang karyawan tetap.

“Lima belas orang itu berstatus karyawan tetap, bekerja secara profesional dan digaji setiap hari. Sementara karyawan yang lainnya bekerja serabutan, bekerja jika dibutuhkan saja,” tuturnya menjelaskan.

Tentu saja ada kepuasan batin yang dialami Saiful. Bukan saja bisnis cabe yang ia kembangkan mulai menemukan secercah harapan. Melainkan, ia senang lantaran telah mampu merekrut sejumlah orang untuk diserap menjadi tenaga kerja pertanian secara permanen.

Selain itu, di tengah kesibukannya menjadi ketua DPC PKS Mancak, pria 35 tahun ini juga melowongkan waktunya setiap hari menyapa dan memberikan kontribusi ril bagi masyarakat sekitarnya. Saiful sadar betul bahwa tantangan dakwah ke depan makin sulit, tidak cukup bermodalkan ceramah semata. Untuk itulah, kontribusi nyata sangat dibutuhkan halayak ramai.

“Saya senang bisa membantu orang lain. Ke depan dakwah tak cukup hanya ceramah, tapi harus mampu memberikan sesuatu yang nyata bagi masyarakat semisal lapangan pekerjaan. Saya berharap dengan cabe yang saya kembangkan ini, tugas dakwah kita semakin gampang. Cabe ini adalah modal saya untuk berdakwah” katanya mengakhiri pembicaraan. (Adi)

Sumber : http://www.zulkieflimansyah.com/in/berdakwah-dengan-cabe.html