Minggu, 04 Oktober 2009
Berdakwah dengan Cabe
Seperti kebanyakan pemuda di kampungnya, ia mempunyai mimpi untuk menjadi orang sukses. Baginya, kesuksesan merupakan harga mati yang bisa mengangkat derajat hidup diri serta keluarganya. Saiful ‘muda’ sangat senang mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Ia percaya, hanya dengan mengembara cita-citanya menjadi orang sukses bakal terwujud.
Sejak lulus SMA, Saiful muda sudah melangkahkan kaki perjuangannya ke sebuah kota pelajar di Bandung. Di sana ia mencari pengalaman kerja sembari menafkahi hidupnya. Di kota kembang ini pula, dengan bekal seadanya ia sempat kuliah di salah satu kampus swasta, Universitas Bandung. Akan tetapi, sifatnya yang ugal-ugalan membuat dirinya di drop out pihak kampus.
“Saya 3 tahun merantau ke Bandung, mencari kerja hingga kuliah. Tapi karena banyakan nongkrongnya ketimbang kuliah, pihak rektorat kampus mengeluarkan saya. Ini adalah pengalaman tak terlupakan,” kenangnya. Meski begitu, Saiful tak pernah menyesal karena dikeluarkan dari kampus. Ia terus bangkit menjadikan pengalaman ‘pahit’ itu sebagai guru paling berharga dalam hidupnya.
Tak cukup hanya ke Bandung, awal tahun 1997 ia melanjutkan pengembarannya ke Tangerang sebagai buruh pabrik. Pekerjaan sebagai buruh ia tekuni hingga akhir 2000. Persis apa yang terjadi di Bandung, di Tangerang ia tak kunjung berjumpa dengan mimpinya yang indah, menjadi orang sukses. Kemapaman ekonomi tak kunjung datang. Yang ada hanyalah eliminasi hidup dari kehidupan sosial yang kian mengganas.
Sampai akhirnya, di penghujung tahun 2001, ia memutuskan untuk pulang kampung dan bertekad mengembangkan pertanian cabe. Terngiang lekat dalam memorinya sewaktu muda ketika ia melihat petani cabe yang gigih, bekerja di bawah terik matahari, namun hasil yang melimpah tak kunjung menghampiri mereka. Padahal kalau dikelola secara profesional, pertanian cabe bisa mendatangkan banyak keuntungan.
Dari titik simpul itulah, sekembalinya dari pengembaraan selama beberapa tahun, pria berkumis tipis ini bertekad memgembangkan industri pertanian cabe menjadi pertanian yang lebih menguntungkan, berguna bagi masyarakat, dan menghasilkan banyak keuntungan. Dari satu penyuluhan ke penyuluhan lain ia ikuti guna menambah wawasan tentang cara mengembangkan pertanian cabe.
Dengan pengetahuan dan modal seadanya, Saiful ‘tua’ mulai coba-coba bertanam cabe. Areal pertaniannya masih terbatas, bibit yang digunakan juga terbatas. Hasil pertaniannya pun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya. Saat itu, pertanian cabe yang ia jalani sangatlah tradisional, belum ada sentuhan teknologi canggih.
Seiring perkembangan zaman, pengetahuan Saiful tentang pertanian cabe mulai bertambah. Pengalaman menjadi petani cabe juga telah membuat dirinya menjadi sosok yang ulet dan pantang menyerah. Sampai akhirnya, sejak tahun 2005 ia memberanikan diri bertanam cabe dalam skala yang lebih besar. Dan keberanian itu, bergayung sambut dengan perkenalannya dengan Bang Zul yang mensupportnya dari segi modal.
Pengalaman, modal, serta ketersediaan lahan semakin menancapkan semangat Saiful untuk terus mengembangkan industri pertanian cabe di tanah kelahirannya, desa Angsanah kecamatan Mancak. Tahun ini, ia menanam 17.000 bibit pohon cabe di areal tanah seluas 1,5 hektar. Dari prediksi keuntungan, 17.000 pohon cabe itu akan menghasilkan 7 ton dalam setiap panennya.
“Alhamdulilah dengan modal dari Kang Zul pertanian cabe yang saya kelola mulai berkembang. Insya Allah dalam satu tahun ini kita akan panen cabe dua kali. Setiap panen minimal 7 ton akan kita hasilkan dan jika diuangkan bisa mencapai 70 juta,” tuturnya penuh semangat.
Pertanian cabe tidak saja menguntungkan dirinya secara financial, lebih dari itu industri cabe yang dikelola bapak dua anak ini juga justeru mampu menyerap sejumlah tenaga kerja guna dipekerjakan di kebun. Saiful mengatakan, untuk menggarap 1,5 hektar sawah, ia membutuhkan sedikitnya 15 orang karyawan tetap.
“Lima belas orang itu berstatus karyawan tetap, bekerja secara profesional dan digaji setiap hari. Sementara karyawan yang lainnya bekerja serabutan, bekerja jika dibutuhkan saja,” tuturnya menjelaskan.
Tentu saja ada kepuasan batin yang dialami Saiful. Bukan saja bisnis cabe yang ia kembangkan mulai menemukan secercah harapan. Melainkan, ia senang lantaran telah mampu merekrut sejumlah orang untuk diserap menjadi tenaga kerja pertanian secara permanen.
Selain itu, di tengah kesibukannya menjadi ketua DPC PKS Mancak, pria 35 tahun ini juga melowongkan waktunya setiap hari menyapa dan memberikan kontribusi ril bagi masyarakat sekitarnya. Saiful sadar betul bahwa tantangan dakwah ke depan makin sulit, tidak cukup bermodalkan ceramah semata. Untuk itulah, kontribusi nyata sangat dibutuhkan halayak ramai.
“Saya senang bisa membantu orang lain. Ke depan dakwah tak cukup hanya ceramah, tapi harus mampu memberikan sesuatu yang nyata bagi masyarakat semisal lapangan pekerjaan. Saya berharap dengan cabe yang saya kembangkan ini, tugas dakwah kita semakin gampang. Cabe ini adalah modal saya untuk berdakwah” katanya mengakhiri pembicaraan. (Adi)
Sumber : http://www.zulkieflimansyah.com/in/berdakwah-dengan-cabe.html
Aktifitas Relawan PKS di Lokasi Bencana
Posko PKS yang beralamat di Kantor DPW PKS Sumatera Barat di Jl Batang Agam No.11 Padang Baru, Kodya Padang, (Telp 0751 – 7055 154), semakin padat dengan berbagai aktifitas selama 24 jam. Relawan dan bantuan juga terus berdatangan dan langsung diarahkan dan didistribusikan ke daerah-daerah yang membutuhkan.
Kondisi Kota Padang.
Tim Relawan Kepanduan PKS pagi ini (3/10) melaporkan bahwa kerusakan berat yg masif menyebar di Padang dan Pariaman. Kota Padang masih memerlukan alat berat untuk memperlancar rescue dan evakuasi yang masih terus dilakukan untuk mencari korban yang dikhawatirkan masih terdapat di bawah reruntuhan bangunan. Alat berat juga diperlukan untuk membersihkan jalan dan fasilitas umum lainnya agar dapat difungsikan seperti semula.
Pasokan listrik sudah ada di berapa lokasi, dalam 3 hari ke depan diharapkan akan terus bertambah. Sementara itu BBM / premium sudah disupply hampir di semua SPBU dengan antrian yang panjang dan terus menerus sepanjang malam. Beberapa SPBU tetap buka 24 jam, namun terkendala minimnya tenaga operator yg belum full karena beberapa di antaranya turut menjadi korban gempa. Antrian di SPBU juga diperparah oleh banyaknya masyarakat yang antri membeli bensin dengan jerigen kecil atau botol, yang kebanyakan akan dijual lagi. Sedangkan antrian motor dan mobil relatif terjadi karena kebutuhan masyarakat lokal dan arus mudik. Di beberapa SPBU juga sudah tidak terjadi pembatasan pembelian sehingga kendaraan dapat mengisis full tank.
Di kota Padang toko-toko yang biasa menjual kebutuhan sehari-hari belum buka sehingga ke depan berpotensi meningkatnya permintaan air bersih, makanan dan susu formula serta kebutuhan pokok lainnya.
Di kota Padang korban luka umum nya sudah dievakuasi dan dirawat intensif walaupun dengan fasilitas yang terbatas.
Tim Rescue dan Tim Medis PKS.
Proses Rescue diutamakan di daerah Pariaman dan daerah pedesaaan, yang saat ini masih bersifat sporadis mengingat keterbatasan tenaga rescue. Sehingga relawan PKS yang berasal dari berbagai wilayah sebagian besar diarahkan ke Pariaman dan sekitarnya.
Tim Medis PKS, bersama Tim Medis BSMI dan PKPU saat ini masih berada di Dusun Sungai Jilatang, Nagari Campago, Kec 5 Koto Kampung Dalam, Pariaman. Terdapat 101 pasien yang berasal dari 237 rumah/kk. Di wilayah ini hanya tinggal lima rumah yang masih layak dihuni. Masyarakat membutuhkan: tenda, terpal, selimut, dan sembako.
Komunikasi radio.
Komunikasi telepon masih menjadi kendala, sehingga Tim Radio Komunikasi Kepanduan PKS terus mengupayakan agar jaringan radio komunikasi yang ada dapat dioptimalkan dan diperluas jangkauannya, agar memudahkan komunikasi dan koordinasi di lapangan.
"Kami menghimpun dan menyalurkan bantuan untuk korban bencana.
Salurkan kepedulian Anda melalui Rekening BCA 7600 31 8181 atas nama PKS P2B"
Sumber : http://www.pk-sejahtera.org/v2/index.php?op=isi&id=7995
Di Balik Gagalnya Paket Pimpinan MPR PKS, PKB, dan DPD
Tifatul Sembiring (Dok detikcom)
Jakarta - Mengapa PKS batal mengajukan Hidayat Nurwahid (HNW) untuk melawan Taufiq Kiemas (TK) sebagai Ketua MPR? Sebenarnya PKS sudah mencoba membuat koalisi dengan PKB dan DPD. Namun, koalisi ini kurang memiliki magnitude.
Presiden PKS Tifatul Sembiring mengatakan, paket HNW tersebut melemah setelah mundurnya PKB. Karena itu, PKS menyatakan abstain dalam pemilihan ketua MPR.
"Setelah PKB mundur dari paket PKS, PKB dan 3 dari DPD, maka akhirnya paket kehilangan magnitudenya, sehingga diputuskan abstain," ujar Tifatul melalui rilis yang diterima detikcom, Sabtu (3/10/2009).
Tifatul mengucapkan selamat kepada Ketua MPR terpilih Taufiq Kiemas (TK). Namun, dia menegaskan bahwa paket HNW yang dirancang sejak awal tetap dalam komitmen NKRI.
"Tidak benar Pak Hidayat itu ancaman terhadap NKRI. Justru di masa kepemimpinan beliau lah sosialisasi UUD intensif disampaikan," bantahnya.
Seperti diketahui, 4 Wakil Ketua MPR yang terpilih mendampingi TK adalah Hajrianto Tohari (Golkar), Melani Lemeina Suharli (Demokrat), Lukman Hakim Saefuddin (PPP), Ahmad Farhan Hamid (DPD asal Aceh).
Tifatul menyayangkan kurang terakomodasinya utusan dari DPD yang mencerminkan keterwakilan daerah secara seimbang.
"Pak Farhan Hamid memang dari DPD NAD, namun secara umum sudah diketahui bahwa yang bersangkutan adalah politisi yang berasal dari PAN," pungkas Tifatul. (irw/irw)
Sumber : http://www.detiknews.com/read/2009/10/04/053931/1214671/10/di-balik-gagalnya-paket-pimpinan-mpr-pks-pkb-dan-dpd
Hidayat Nur Wahid Beri Selamat Taufiq Kiemas
|
Begitu palu pengesahan diketok Ketua DPR Marzuki Alie dan sidang ditutup, mantan Ketua MPR Hidayat Nurwahid segera bangkit dari kursinya. Hidayat langsung menuju bangku Taufiq Kiemas untuk memberikan selamat. Keduanya tampak berjabat tangan dan berpelukan.
Hidayat sendiri sedianya akan dicalonkan kembali sebagai Ketua MPR oleh PKS. Namun ketiadaan dukungan dari fraksi-fraksi lain membuat PKS mengurungkan pencalonan Hidayat.
Fungsionaris PKS, Zulkieflimansyah, menyatakan dalam forum paripurna bahwa partainya tidak akan mencalonkan Ketua MPR. Namun PKS menegaskan komitmennya untuk menghargai proses politik yang berlangsung. "Sikap ini kami ambil setelah memperhatikan dinamika yang berkembang," jelas Zulkieflimansyah.
Dalam proses pemilihan tersebut, Taufiq Kiemas menjadi calon tunggal Ketua MPR. Sekitar 550 anggota MPR yang menghadiri sidang di Gedung MPR, Senayan, Jakarta, Sabtu 3 Oktober 2009, secara aklamasi menyetujui Taufiq sebagai Ketua MPR.
Usai disahkan menjadi Ketua MPR, Taufiq menyempatkan diri untuk berfoto bersama Ketua DPR, Marzuki Alie, dan putrinya, Puan Maharani.
Sumber : http://politik.vivanews.com/news/read/94238-hidayat_nur_wahid_beri_selamat_taufiq_kiemas
Abstain, PKS Legowo TK Pimpin MPR
INILAH.COM, JAKARTA - Dalam pemilihan pimpinan MPR, PKS memilih abstain. Meski demikian, PKS tetap akan mendukung kepemimpinan Taufiq Kiemas di MPR.
Presiden PKS Tifatul Sembiring mengakui pihaknya sangat menyayangkan kurang terakomodasinya tuntutan DPD yang menginginkan adanya keseimbangan dalam komposisi pimpinan MPR. Namun, walau demikian, PKS tetap akan membantu dan bekerja sama membangun lembaga MPR yang bermartabat.
"PKS siap bahu membahu dengan Pimpinan MPR yang baru untuk membangun kemajuan dan kesatuan bangsa," jelas Tifatul di Jakarta, Sabtu (3/10) malam.
Dalam pemilihan tadi, hampir seluruh fraksi MPR mengajukan calon paket tunggal yang terdiri dari Ketua Taufiq Kiemas (PDIP) dan dengan Wakil Meilani Leimena (PD), Hajriyanto Tohari (Golkar), Lukman Hakim Saefuddin (PPP), serta Ahmad Farhan Hamid (DPD).
Tifatul mengakui setelah PKB mundur dari paket PKS, PKB dan 3 dari DPD, koalisi yang mengusung Hidayat Nurwahid itu akhirnya kehilangan magnitudenya. Alhasil, sikap abstain pun dipilih.
"Pak Farhan Hamid memang dari DPD NAD, namun secara umum sdh diketahui bahwa yang bersangkutan adalah politisi yg berasal dari PAN," ujar Tifatul. [ton]
Sumber : http://www.inilah.com/berita/politik/2009/10/04/163220/abstain-pks-legowo-tk-pimpin-mpr/
PKS Tak Ajukan Pimpinan MPR
Foto: Elvan Dany S/detikcom
Jakarta - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memutuskan tidak mengajukan pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). PKS mendukung siapa pun pimpinan MPR yang terpilih.
"Partai kami tidak mengusulkan pimpinan MPR," kata juru bicara FPKS DPR Zulkieflimansyah.
Zul mengungkapkan bahwa PKS akan mendukung siapa pun pimpinan MPR yang terpilih. PKS berharap siapapun yang terpilih dapat bekerja maksimal untuk keterwakilan rakyat.
"Kami menghargai sidang malam hari ini semoga pimpinan yang terpilih dapat memajukan Indonesia," kata Zul.
"Kami yakin pimpinan kali ini membawa lebih baik demokrasi, menjaga tegaknya NKRI serta menjaga negara yang kita cintai dalam bingkai kebineka tunggal ekaan," tandasnya.
PKS sebelumnya konsisten mengusung Hidayat Nurwahid menjadi Ketua MPR dengan komposisi 4 pimpinan MPR dari DPR dan 1 pimpinan MPR dari DPD.
Sumber : http://www.detiknews.com/read/2009/10/03/222206/1214622/10/pks-tak-ajukan-pimpinan-mpr
(inilah.com/Abet Jalaludin)
INILAH.COM, Jakarta - Setelah melalui perdebatan panjang akhirnya Ketua MPR disepakati Taufiq Kiemas. Dalam sidang paripurna ke III TK mendapat dukungan dari 8 fraksi. Sementara PKS tidak memberi dukungan.
"Dengan memperhatikan dinamika yang berkembang, kami tidak mengusulkan calon pimpinan MPR, meskipun demikian kami tetap akan menghormati. Kami yakin siapapun yang terpilih dapat menjaga republik ini," kata ujar fungsionaris PKS Zulkiflimansyah, dalam sidang paripurna ke III, di gedung DPR, Jakarta, Sabtu (3/10).
Sementara, 8 fraksi lainnya yakni PAN, Gerindra, PPP, Golkar, Demokrat, PDIP, Hanura dan PKB mengusung TK sebagai Ketua MPR. Ke 8 fraksi ini juga mengajukan paket yang sama. Paket yang diajukan adalah Ketua MPR Taufiq Kiemas, Wakil Ketua MPR Melani
Suharli dari PD, Hajriyanto Tohari dari Golkar, Lukman Hakim Saefuddin dari PPP dan Ahmad Farhan Hamid dari DPD. [win/ton]
Sumber : http://www.inilah.com/berita/politik/2009/10/03/163187/pks-tak-dukung-tk-pimpin-mpr/
Taufiq Kiemas Jadi Ketua MPR
Demikian hasil keputusan Sidang Paripurna Pemilihan Pimpinan MPR di Gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Sabtu (3/10/2009).
4 Wakil Ketua yang terpilih mendampingi TK adalah Hajrianto Tohari (Golkar), Melani Lemeina Suharli (Demokrat), Lukman Hakim Saefuddin (PPP), Ahmad Farhan Hamid (DPD asal Aceh).
Kecuali PKS, semua fraksi mengusulkan 1 paket dengan nama-nama yang sama. PKS yang sebelumnya ngotot mengusulkan Hidayat Nur Wahid sebagai calon Ketua MPR, memutuskan tidak mengajukan paket nama.
"Kami memutuskan tidak mengusulkan calon pimpinan MPR 2009-2014. Meski demikan kami tetap menghormati persidangan ini," kata Juru Bicara Fraksi PKS Zulkieflimansyah.
PKS berharap ke depan Pimpinan MPR dapat menjaga ideologi pancasila dan mengawal keutuhan bangsa dalam bingkai kebhinekaan.
Semetara itu, DPD tidak menyampaikan sikapnya secara resmi dalam sidang paripurna pemilihan pimpinan MPR. Pimpinan sidang Marzuki Alie menyampaikan DPD menyetujui terpilihanya Ahmad Farhan Famid sebagai Wakil Ketua MPR. Sementara soal komposisi, tidak jelas apakah DPD akhirnya sudah menyepakati sistem satu paket dengan komposisi 4-1.
Usai terpilih TK mendapat ucapan selamat dan pelukan dari rekan-rekannya sesama wakil rakyat. Seluruh anggota FPDIP hadir dalam sidang paripurna. (lrn/irw)
Sumber : http://www.detiknews.com/read/2009/10/03/221257/1214621/10/taufiq-kiemas-jadi-ketua-mpr
Sabtu, 03 Oktober 2009
DPD Tawarkan Usung Hidayat Sebagai Ketua MPR
|
Pemilihan digelar di Gedung MPR, Senayan, Jakarta, Sabtu 3 Oktober 2009. Namun, sidang yang dijadwalkan berlangsung pada pukul 19.30 sampai saat ini belum juga dimulai.
Dalam forum lobi sore tadi, DPR menginginkan komposisi pimpinan MPR 4:1 yang terdiri dari 4 unsur DPR dan 1 unsur DPD. Namun DPD yang merasa dirugikan dengan format tersebut, bersikeras dengan komposisi 3:2 yang terdiri dari 3 unsur DPR dan 2 unsur DPD.
Seusai rapat lobi, Wakil Ketua DPD Laode Ida bahkan menegaskan bahwa komposisi 3:2 merupakan harga mati bagi DPD yang selama ini berniat untuk memperkuat posisi kelembagaannya di parlemen. "Komposisi 4:1 menunjukkan indikasi dominasi kekuatan DPR yang tidak dapat kami terima," tandas Laode dalam konferensi pers di Gedung DPR.
Untuk mengimbangi dominasi kubu 4:1 yang didukung oleh partai-partai besar, DPD menawarkan diri untuk bergabung dengan PKS dan PKB yang masih terbuka pada opsi komposisi 3:2. Sebagai kompensasi, DPD bersedia untuk mengusung Hidayat Nurwahid sebagai calon Ketua MPR.
Selama ini Hidayat yang dicalonkan oleh PKS memang kekurangan dukungan karena Demokrat, Golkar, PAN, dan PPP yang selama ini menjadi mitra koalisinya, justru mendukung Taufiq Kiemas sebagai calon ketua MPR dari PDIP.
DPD berharap agar PKS dapat menerima tawaran tersebut. Tapi hingga sidang hampir dimulai saat ini, PKS belum juga menetapkan sikap apakah akan menerima tawaran tersebut atau tidak. Bila PKS setuju, maka Taufiq Kiemas akan berhadapan dengan Hidayat Nurwahid untuk memperebutkan kursi Ketua MPR.
Ada tiga nama yang santer disebut dalam perebutan kursi Ketua MPR periode 2009-2014, yakni Hidayat, Ginanjar Kartasasmita, dan Taufiq Kiemas.
Sumber : http://politik.vivanews.com/news/read/94232-dpd_tawarkan_usung_hidayat_sebagai_ketua_mpr
Pemilihan Ketua MPR Alot Perdebatan Mengarah 2 Paket, TK Vs Hidayat
"Perdebatan dua paket, kemungkinan besar TK akan berhadapan dengan Pak Hidayat," ujar anggota DPR dari FPKS Nasir Jamil saat berbincang dengan detikcom di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Sabtu (3/10/2009).
Arah dua paket ini seiring dengan makin mengerucutnya komposisi pimpinan MPR yang lebih condong pada 4-1, yaitu empat anggota DPR dan 1 anggota DPD yang mengisi kursi pimpinan MPR. "Paketnya lebih ke 4-1," kata Nasir.
Lantas bagaimana komposisi kubu TK dan Hidayat untuk mengisi komposisi 4-1? Bagaimana koalisi yang akan dijalin kubu TK dan kubu Hidayat?
Menurut Nasir Jamil, baik paket TK maupun Hidayat belum memiliki komposisi yang pasti. Pendamping Hidayat atau TK sama-sama belum bisa dipastikan. "Seperti Golkar, bahasanya saya ikut yang menang," kata Nasir.
Namun demikian, Nasir mengungkapkan saat ini mulai muncul opsi partai koalisi PD akan berdiri sendiri. Jika demikian, partai yang diklaim TK bisa berbalik ke Hidayat.
"Kalau koalisi minus PDIP dan Golkar, maka PPP, PAN, dan PD akan dukung Hidayat," ungkap Nasir.
Kemana nasib PKB? "Kita lihat nanti dia mau ke mana," lanjutnya.
Asal tahu saja, PKB merupakan salah satu parpol yang mendorong TK sebagai ketua MPR, dengan harapan ada wakil PKB yang duduk sebagai pimpinan MPR. Di pimpinan DPR, PKB tidak kebagian kursi.
Sumber : http://www.detiknews.com/read/2009/10/03/164305/1214529/10/perdebatan-mengarah-2-paket-tk-vs-hidayat