Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Minggu, 30 Agustus 2009

Akhlak Daiyah



Ikhwah wal akhawat rahimakumullah…Dalam suatu kaidah disebutkan, “Jangan remehkan soal peneguhan akhlak. Hati sekeras batu milik para kafir Quraisy pun dapat luluh dengan akhlak mulia.”

Islam bukan sekedar tujuan, tapi juga cara. Artinya, kalau kita mempunyai cita-cita menegakkan Islam maka tidak ada cara lain untuk mencapai kecuali dengan cara (akhlak) Islam. Hal ini juga diisyaratkan oleh Allah SWT dalam firmanNya:
“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya' kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.”

Orag-orang kafir, meskipun membangkang dan bersikeras memerangi Rasulullah SAW, namun mereka tidak kuasa menampik kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Mengapa?

Selain faktor hidayah dari Allah SWT, yang membuat hati banyak orang yang semula lebih keras dari batu, bisa tiba-tiba luluh, dan tak berdaya selain tunduk dan pasrah kepada seruan rasulullah SAW adalah karena Islam merupakan kebenaran mutlak yang pasti sesuai dengan fitrah manusia. Namun ada faktor lain yang menempati posisi amat bermakna untuk membuat sesorang tersentuh fitrahnya, yaitu akhlak.



Ikhwan wal akhawat ad-daiyah…Bahwa keindahan akhlak yang ditampilkan Rasulullah SAW telah membungkam segala hujah orang yang mendustakan Rasulullah SAW. Karenanya, hal yang paling mungkin mereka tuduhkan kepada Rasulullah SAW adalah bahwa beliau seorang tukang sihir atau berpenyakit gila. Meski akhirnya tuduhan itu tak dapat juga mereka buktikan.

Oleh karena itu, semangat menegakkan kebenaran (syariat Islam) bukan alasan untuk mengabaikan akhlak islami. Bahkan justru semangat itu seharusnya mendorong untuk meningkatkan kualitas akhlak.

Prinsip itu berlaku universal dan dipraktikkan oleh para nabi sebelum Rasulullah SAW. Lihat, bagaimana Allah SWT mengutus nabi Musa dan nabi Harus menghadapi Fir’aun. Bukan untuk semata-mata menawarkan kebenaran, namun untuk menawarkan kebnaran dengan memakai akhlak.

“Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut". [Thaha : 43-44]

Rasulullah SAW pun mendapat perintah yang sama.
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” [Fushilat : 33-34]

Kedua ayat di atas menunjukkan akhlak dalam berdakwah dengan segala tantangannya sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang mau menerima kebenaran atau tidak, menjadi tunduk hatinya atau semakin congkak, menjadi saudara seiman atau semakin menjadi-jadi permusuhannya.

Jadi, dakwah yang penuh cacian dan makian kepada siapapun, baik penguasa, kelompok lain yang tidak sehaluan, maupun orang yang tidak mau mengikuti seruan dakwahnya adalah bertentangan dengan akhlak Islam. Selain tidak sesuai dengan esensi kebenaran out sendiri, cacian dan makian itu tidak akan menambah keimanan dan amal. Alih-alih meningkatkan pemahaman dan keisapan untuk berjuang, hal itu justru semakin menyuburkan penyakit-penyakit hati, seperti iri, dengki, kebencian, dan kesumpekan dada.

Ikhwan wal akhawat hafidzakumullah…Marilah kita saksikan salah satu dari banyak sudut akhlak Rasulullah SAW.
Alkisah, di sudut pasar Madinah ada pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, “Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.”

Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan dan tanpa berucap sepatah kata pun. Rasulullah menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu, sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya adalah Rasulullah SAW. Beliau melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.

Setelah wafatnya rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. suatu hari shahabat terdekat Rasulullah SAW, yakni Abu Bakar RA berkunjung ke rumah anaknya, Aisyah RA, yang tidak lain tidak bukan merupakan istri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu, “Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?” Aisyah menjawab, “Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli Sunnah kecuali satu saja.” “Apakah itu?” tanya Abu bakar RA. “Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana,” kata Aisyah RA. Keesokan harinya Abu Bakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. abu Bakar RA mendatangi pengemis itu, lalu memberikan makanan kepdanya.

Ketika Abu Bakar RA mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik, “Siapakah kamu?” Abu Bakar RA menjawab, “Aku orang yang biasa (mendatangimu).” “Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku,” bantah si pengemis buta itu. “Apabila ia datang kepadaku kepadaku, tidak susah tangan ini memgang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu diberikan kepadaku,” pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abu Bakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa mendatangimu. Aku adalah salah seorang shahabatnya. Orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad, Rasulullah SAW.”

Seketika itu, pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abu Bakar RAS dan lantas berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikit pun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…” Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abu Bakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.
Demikianlah akhi daiyah, bisakah kita meneladani kemuliaan akhlak Rasul SAW? Atau adakah setidaknya niatan untuk meneladani beliau? Beliau adalah ahsanul akhlaq (semulia-mulia akhlak). Kalupun tidak bisa kita meneladani beliau seratus persen, alangkah baiknya kita berusaha meneladani sedikit demi sedikit, kita mulai dari apa yang kita sanggup melakukannya.

Ikhwani wa akhwati as’adakumullah hayakaum…Untuk mengeksiskan akhlak dalam tubuh seorang daiyah, maka harus dilakukan dengan dua langkah secara bersamaan. Langkah pertama adalah adalah takhliyah, yakni membersihkan diri dari segala akhlak yang buruk. Diantaranya adalah al-bathar (congkak) dan riya (beramal demi dilihat manusia). Mengapa dua penyakit hati itu disebut secara khusus?

Kesombongan akan melemahkan posisi dai dalam menghadapi perjuangan, baik yang muncul karena sebab kelebihan ilmu, wawasan, atau informasi. Ini sering mengakibatkan dirinya mudah mengambil kesimpulan, keputusan, atau bahkan memvonis keadaan. Jelas cara ini sangat berbahaya. Karena dengan cara seperti itu seorang dai bisa terjebak dalam pandangan yang overestimasi tentang dirinya dan sebaliknya underestimasi tentang orang lain dan keadaan yang dihadapinya. Ini pernah menjadi catatan pahit kaum muslimin di masa lalu, sebagaimana Allah rekam dalam ayat-Nya:
“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang- orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah : 25-26).

Kesombongan juga bisa muncul dalam bentuk mengangkat diri sendiri melebihi kapasitas sebenarnya. Sejarah telah membuktikan bahwa tidak ada kemenangan yang dicapai oleh kesendirian, namun kemenangan Islam adalah kemenangan kolektif dan dihasilkan dari amal jamai yang segala keputusannya lahir dari musyawarah (syura).

Riya juga menempati posisi penting dalam faktor-faktor penyebab kegagalan dakwah dan perjuangan Islam. Sebelum riya itu berdampak buruk dalam kaitan interaksi sesama manusia, ia terlebih dahulu merupakan penyakit yang dimurkai Allah SAWT. Sampai-sampai Rasulullah menjelaskan alih-alih mendapatkan pahala, rang yang beramal dengan riya lebih layak menjadi penghuni neraka. Karena memang orang yang riya bukan mencari ridha Allah dengan amalnya.atau mencari ridha Allah sambil mencari ridha manusia. Dan Allah tidak suka cara seperti itu. lalu, bagaimana bisa mendapatkan pertolongan Allah SWT jika dalam beramal yang diinginkan adalah keridhaan manusia?

Sombong dan riya ini merupakan induk dari akhlak buruk yang akan memunculkan perilaku buruk lainnya. Oleh karena itu, dapat dimengerti jika larangan sombong dan riya kemudian diikuti larangan menghalang-halangi orang lain dari jalan Allah. Apa maksudnya?

Bukan dakwah dan perjuangannya, tentu, yang menghalang-halangi manusia dari jalan Allah, melainkan sifat dan akhlak buruk yang menyertai dakwah dan perjuangan itu. akhlak buruk bisa menyebabkan orang lari dari dakwah dan bahkan Islam itu sendiri. Dan jika ada orang yang lari dari Islam gara-gara kita berakhlak buruk, kita dianggap telah menghalang-halangi orang lain dari jalan Allah.

Maka, sifat-sifat buruk itu perlu dibersihkan dari diri kita, para dai. Itulak takhliyah. Namun tidak cukup dengan hanya takhliyah. Sikap berikutnya adalah tahliyah, yaitu menghiasi diri dengan segala akhlak terpuji. Rasulullah SAW telah melakukan keduanya, sehingga Allah SWT memujinya dengan berfirman:
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur” (QS. Al-Qalam : 4)

Setiap manusia mempunyai fitrah untuk menghiasi diri. Tapi sayangnya, banyak manusia yang tidak mengetahui perhiasan yang terbaik bagi dirinya. Ada yang menghiasi diri dengan logam mulia seperti emas dan berlian. Ada pula yang menghiasi diri dengan kosmetik. Semua ditujukan guna menampilkan diri dalam bentuk yang paling indah.

Bagi seorang muslim, terutama seorang daiyah, perhiasan terindah adalah akhlak mulia. Inilah perhiasan yang dapat dikenang sepanjang masa. Inilah perhiasan yang menjadikan pemiliknya mulia di hadapan manusia dan Allah SWT. Dengan akhlak mulia, seorang muslim akan terlihat anggun dan cantik. Setiap orang yang melihatnya akan terkesima dan kagum oleh keindahan akhlaknya.

Dalam pandangan Rasulullah SAW, akhlak mulia menjadi bukti kemuliaan seorang muslim. Beliau SAW bersabda:
“Sesungguhnya orang yang paling baik keisalamannya dalah orang yang paling indah akhlaknya” (HR. Ahmad)

Menghiasi diri dengan akhlak mulia berarti mempertegas diri sebagai manusia, karena dengan kahlak akan terlihat perbedaan manusia denga hewan. Dengan akhlak pula akan terlihath sisi keteraturan hidup manusia yang tidak dimiliki hewan.

Dengan demikian, manusia yang tidan peduli dengan akhlak, sesungguhnya ia sedang menuju derajatnya yang paling rendah. Tanpa akhlak, manusia akan seenaknya melakukan apa saja tanpa peduli spsksh tindakannya berbahaya bagi orang lain atau tidak.

Allah SWT berfirman:
“Sungguh telah Kami ciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna. Kemudian Kami kembalikan manusia kepada derajat yang paling rendah.” (QS. At-Tin : 4-5)

Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, akhlak mulia menjadi kunci keberlangsungan suatu masyarakat. Artinya, keberadaan masyarakat hanya bernilai jika telah mempraktikkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, jika akhlak mulia sudah ditinggalkan oleh suatu masyarakat, maka lonceng kematian masyarakat itu hanya tinggal menunggu waktu.

Masyarakat tanpa akhlak mulia seperti masyarakat rimba, di mana pengaruh dan wibawa diraih dari keberhasilan menindas yang lemah, bukan dari komitmen terhadap integritas akhlak dalam diri.

Dalam Islam, akhlak bukanlah ajaran yang layak dipandang sebelah mata. Perhatian Islam terhadap akhlak sama seperti perhatian terhadap masalah akidah dan syariah. Ini menjadi bukti bahwa Islam bukanlah agama yang hanya kaya dengan teori normatif, melainkan juga agama yang menekankan kepada pengalaman praktis.

Perjalanan dakwah Islam membuktikan bahwa keberhasilan Nabi Muhammad SAW berdakwah bukanlah hanya karena keluhuran ajaran Islam, melainkan juga karena akhlak mulia yang langsung dipraktikkan oleh beliau dalam setiap langkah kehidupannya.

dari blog --> muchlisin.blogspot.com [sumber: Taujih Pekanan jilid 2]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar